Hukum membuat Cerita Fiksi dalam tinjauan syariat



حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج
“Sampaikanlah cerita-cerita yang berasal dari Bani Israil dan itu tidaklah mengapa”
(HR Ahmad, Abu Daud dll).

Mazhab Syafii menjadikan Hadits ini sebagai dalil oleh sebagian ulama bahwa diperbolehkan mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik dengan tujuan hiburan dengan syarat cerita tersebut telah diketahui merupakan cerita fiksi untuk menanamkan sifat moral yang positif (Ibnu Hajar al Haitaimi)

Mazhab Hanafi berpendapat makruhnya kisah yang isinya adalah hal-hal yang tidak berdasar berupa kisah-kisah tentang kehidupan masa lalu atau memberi tambahan atau pengurangan pada kisah nyata dengan tujuan memperindah kisah.

Namun Ibnu Abidin seorang ulama bermazhab Hanafi tidak menegaskan makruhnya hal tersebut jika orang yang melakukan memiliki niat yang baik.

“Mungkinkah kita katakan bahwa hukum hal tersebut adalah mubah jika maksud dari membawakan kisah tersebut untuk membuat permisalan dengan tujuan memperjelas maksud atau niat baik semisalnya? Perlu telaah ulang untuk memastikan hal ini (ibnu Abidin)”.
Maka diperbolehkan menulis buku yang berisi cerita fiksi dengan dua syarat: 

1. Diketahui hakikat cerita bahwa cerita tersebut adalah fiksi


2. Membuat cerita dengan muatan pesan moral positif Contohnya sebuah buku yang berjudul al maqamat karya al Hariri. Sepanjang sejarah tidak ada satupun ulama di masa silam yang mengingkari al maqamat meskipun kandungan buku tersebut adalah cerita fiksi.