Menjawab fitnah perbudakan




لَقَدْ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالْعَتَاقَةِ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ
Sungguh Rasulullah saw memerintahkan membebaskan budak saat gerhana matahari
(Sahih al-Bukhari 1054 /Jilid 16, Hadits 14)
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ عِنْدَ الْخُسُوفِ بِالْعَتَاقَةِ
Dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu anha “kami diperintahkan untuk membebaskan budak saat gerhana bulan”
(Sahih al-Bukhari 2520 Jilid 49, Hadits 4)
مَنْ أَعْتَقَ جَارِيَتَهُ ثُمَّ تَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ
Barang siapa membebaskan seorang budak lalu menikahinya maka ia mendapat dua pahala”
(Sunan an-Nasa'i 3345, Jilid 26, Hadits 150)
أَنَّ عَائِشَةَ، أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَرَادَتْ أَنْ تَشْتَرِيَ جَارِيَةً فَتُعْتِقَهَا، فَقَالَ أَهْلُهَا نَبِيعُكِهَا عَلَى أَنَّ وَلاَءَهَا لَنَا. فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ " لاَ يَمْنَعُكِ ذَلِكَ، فَإِنَّمَا الْوَلاَءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
Ummul mukminin Aisyah ra hendak membeli seorang budak wanita lalu membebaskannya dari perbudakan. Namun pemilik budak tersebut hanya akan menjualnya dengan syarat budak itu tetap mengabdi padanya. Aisyah radhiyalahu anha menyampaikan hal ini pada Rasulullah saw. Rasulullah saw berkata “ apa yang mereka tetapkan jangan menghalangimu dari membeli (membebaskan) nya, karena sesungguhnya kesetiaan itu adalah bagi yang membebaskan budak”
(Sahih al-Bukhari 2169 Jilid 34, Hadits 120)
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، عَلِّمْنِي عَمَلاً يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ: لَئِنْ كُنْتَ أَقَصَرْتَ الْخُطْبَةَ لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ، وَفُكَّ الرَّقَبَةَ ...
Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah sae dan berkata “ya Rasulullah ajarkan aku perbuatan yang dapat memasukan aku ke syurga” Rasulullah saw berkata “Pertanyaan yang luas (jawabannya) meski kau ucapkan hanya dengan segelintir kata. Bebaskan seseorang, bebaskan budak dari perbudakan…”
(HR Hakim Al-Adab Al-Mufrad 69 : Jilid 2, Hadits 23)
من ضرب غلامًا له حدًا لم يأتهِ، أو لطمه، فإن كفارته أن يعتقه
“barang siapa menampar budaknya atas kesalahan yang tidak diperbuatnya maka kafarahnya adalah membebaskan budak tersebut
(HR Muslim Jilid 18, Hadits 95)
...سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أُمِّي هَلَكَتْ فَهَلْ يَنْفَعُهَا أَنْ أُعْتِقَ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَعَمْ
“Saad bin Ubada bertanya pada Rasulullah saw, “ibuku telah tiada, apakah aku bisa menolongnya dengan membebaskan budak atas namanya?” Rasulullah saw menjawab “Ya” “

(Al Muwatta Imam Malik Jilid 38, Hadith 13)